- Популярные видео
- Авто
- Видео-блоги
- ДТП, аварии
- Для маленьких
- Еда, напитки
- Животные
- Закон и право
- Знаменитости
- Игры
- Искусство
- Комедии
- Красота, мода
- Кулинария, рецепты
- Люди
- Мото
- Музыка
- Мультфильмы
- Наука, технологии
- Новости
- Образование
- Политика
- Праздники
- Приколы
- Природа
- Происшествия
- Путешествия
- Развлечения
- Ржач
- Семья
- Сериалы
- Спорт
- Стиль жизни
- ТВ передачи
- Танцы
- Технологии
- Товары
- Ужасы
- Фильмы
- Шоу-бизнес
- Юмор
Dari Lereng Tana Toraja, Warga Desa Bau Produksi Kakao Organik Hingga 100 Ton per Tahun
#tribuntimur #tribunviral #darilereng #tanatoraja #warga #desabau #produksikakao #coklat
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKALE - Di balik tenangnya perkampungan Lembang Bau, Kecamatan Bittuang, Kabupaten Tana Toraja, tersimpan salah satu sentra kakao berkualitas premium yang kini mulai dikenal para pengepul hingga pasar luar daerah.
Mayoritas warga di wilayah yang berjarak sekitar 46 kilometer dari Kota Makale itu menggantungkan hidup sebagai petani kakao.
Bahkan sekitar 90 persen masyarakat di desa tersebut merupakan petani penghasil coklat.
Salah satu pengepul kakao di wilayah itu, Alexander Palullungan (45), mengaku sudah menjalani usaha pengepulan kakao sejak tahun 2010.
Saat ditemui di lapaknya, para petani tampak silih berganti datang membawa hasil panen untuk ditimbang sebelum dijual.
“Kebetulan hari ini pasar Lembang Bau sangat melimpah dengan buah kakao. Dalam setahun bisa puluhan hingga ratusan ton keluar dari Desa Bau dengan kualitas yang baik,” ujarnya sambil memperlihatkan biji kakao premium hasil pembelian dari petani, Rabu (13/5/2026).
Menurut Alex, salah satu keunggulan kakao dari Lembang Bau adalah proses penanamannya yang minim penggunaan bahan kimia.
“Karena kakao dari Lembang Bau itu tanpa menggunakan bahan kimia dan itu menjadi nilai plus dari desa ini,” katanya.
Tak hanya dirinya, terdapat beberapa pengepul lain di wilayah tersebut yang ikut membeli hasil panen masyarakat.
Namun Alex menilai kualitas kakao sebenarnya lebih banyak ditentukan oleh standar pedagang dibanding petani.
“Kualitas itu bisa ditentukan dari pedagangnya, bukan dari petaninya. Petani tinggal mengikuti standar kualitas dari pedagang,” jelasnya.
Untuk saat ini, harga kakao premium yang dibelinya dari petani berada di angka Rp70 ribu per kilogram.
Ia menjelaskan harga global kakao saat ini berada di kisaran Rp80 ribu per kilogram, sementara harga lokal berkisar Rp70 ribu hingga Rp75 ribu.
“Kami beli di petani Rp70 ribu untuk kualitas premium. Kami harap Desa Bau bisa jadi tempat harga kakao paling tinggi di Tana Toraja karena kami memang utamakan kualitas,” lanjutnya.
Setelah dikumpulkan dari petani, kakao tersebut kemudian dibawa ke Makassar menuju Gudang 99 melalui sistem broker.
Dalam sepekan, Alex mengaku mampu mengumpulkan lebih dari dua ton kakao.
Jika dihitung rata-rata sepanjang Januari hingga Desember, jumlah itu bisa mencapai sekitar 102 ton per tahun.
Meski kualitas kakao masyarakat dinilai sudah cukup baik, Alex menyebut pengelolaan pascapanen masih perlu ditingkatkan agar hasilnya lebih maksimal.
Ia kemudian menunjukkan perbedaan warna kulit kakao yang dipengaruhi cara penjemuran.
Menurutnya, kakao yang dijemur di tempat kotor akan menghasilkan warna berbeda dibanding yang dijemur di tempat bersih.
Selain itu, warna hitam pada kulit kakao biasanya disebabkan proses fermentasi yang kurang tepat.
“Kadang masih panas langsung ditutup akhirnya tumbuh jamur. Tapi itu tidak masalah untuk isi kakaonya karena hanya jamur di kulit luar,” jelasnya.
Alex mengaku bersyukur bisa menjadi pengepul kakao karena pekerjaan tersebut memberinya banyak pengalaman dan pengetahuan tentang kualitas coklat.
Selanjutnya, ia juga berharap akses jalan menuju Lembang Bau mendapat perhatian pemerintah agar masyarakat lebih mudah memasarkan hasil perkebunan mereka.
“Kalau akses jalannya bagus, masyarakat tentu lebih leluasa memasarkan hasil kakao dan perputaran ekonomi masyarakat juga bisa lebih lancar,” ujarnya.
Selain kakao, masyarakat Lembang Bau juga dikenal sebagai petani kopi dan penggarap sawah yang menjadi sumber penghasilan tambahan warga setempat.
Reporter: Anastasya Saidong Ridwan
Editor Video : Sanovra J. R
Narator : Rasni Gani
(TRIBUN-TIMUR.COM)
Update info terkini via http://tribun-timur.com/
Follow dan like fanpage Facebook http://bit.ly/FBTribunTimurMks
YouTube business inquiries: 081144407111
Follow akun Instagram http://bit.ly/IGTribunTimur
Follow akun Twitter http://bit.ly/twitterTribunTimur
Видео Dari Lereng Tana Toraja, Warga Desa Bau Produksi Kakao Organik Hingga 100 Ton per Tahun канала Tribun Timur
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKALE - Di balik tenangnya perkampungan Lembang Bau, Kecamatan Bittuang, Kabupaten Tana Toraja, tersimpan salah satu sentra kakao berkualitas premium yang kini mulai dikenal para pengepul hingga pasar luar daerah.
Mayoritas warga di wilayah yang berjarak sekitar 46 kilometer dari Kota Makale itu menggantungkan hidup sebagai petani kakao.
Bahkan sekitar 90 persen masyarakat di desa tersebut merupakan petani penghasil coklat.
Salah satu pengepul kakao di wilayah itu, Alexander Palullungan (45), mengaku sudah menjalani usaha pengepulan kakao sejak tahun 2010.
Saat ditemui di lapaknya, para petani tampak silih berganti datang membawa hasil panen untuk ditimbang sebelum dijual.
“Kebetulan hari ini pasar Lembang Bau sangat melimpah dengan buah kakao. Dalam setahun bisa puluhan hingga ratusan ton keluar dari Desa Bau dengan kualitas yang baik,” ujarnya sambil memperlihatkan biji kakao premium hasil pembelian dari petani, Rabu (13/5/2026).
Menurut Alex, salah satu keunggulan kakao dari Lembang Bau adalah proses penanamannya yang minim penggunaan bahan kimia.
“Karena kakao dari Lembang Bau itu tanpa menggunakan bahan kimia dan itu menjadi nilai plus dari desa ini,” katanya.
Tak hanya dirinya, terdapat beberapa pengepul lain di wilayah tersebut yang ikut membeli hasil panen masyarakat.
Namun Alex menilai kualitas kakao sebenarnya lebih banyak ditentukan oleh standar pedagang dibanding petani.
“Kualitas itu bisa ditentukan dari pedagangnya, bukan dari petaninya. Petani tinggal mengikuti standar kualitas dari pedagang,” jelasnya.
Untuk saat ini, harga kakao premium yang dibelinya dari petani berada di angka Rp70 ribu per kilogram.
Ia menjelaskan harga global kakao saat ini berada di kisaran Rp80 ribu per kilogram, sementara harga lokal berkisar Rp70 ribu hingga Rp75 ribu.
“Kami beli di petani Rp70 ribu untuk kualitas premium. Kami harap Desa Bau bisa jadi tempat harga kakao paling tinggi di Tana Toraja karena kami memang utamakan kualitas,” lanjutnya.
Setelah dikumpulkan dari petani, kakao tersebut kemudian dibawa ke Makassar menuju Gudang 99 melalui sistem broker.
Dalam sepekan, Alex mengaku mampu mengumpulkan lebih dari dua ton kakao.
Jika dihitung rata-rata sepanjang Januari hingga Desember, jumlah itu bisa mencapai sekitar 102 ton per tahun.
Meski kualitas kakao masyarakat dinilai sudah cukup baik, Alex menyebut pengelolaan pascapanen masih perlu ditingkatkan agar hasilnya lebih maksimal.
Ia kemudian menunjukkan perbedaan warna kulit kakao yang dipengaruhi cara penjemuran.
Menurutnya, kakao yang dijemur di tempat kotor akan menghasilkan warna berbeda dibanding yang dijemur di tempat bersih.
Selain itu, warna hitam pada kulit kakao biasanya disebabkan proses fermentasi yang kurang tepat.
“Kadang masih panas langsung ditutup akhirnya tumbuh jamur. Tapi itu tidak masalah untuk isi kakaonya karena hanya jamur di kulit luar,” jelasnya.
Alex mengaku bersyukur bisa menjadi pengepul kakao karena pekerjaan tersebut memberinya banyak pengalaman dan pengetahuan tentang kualitas coklat.
Selanjutnya, ia juga berharap akses jalan menuju Lembang Bau mendapat perhatian pemerintah agar masyarakat lebih mudah memasarkan hasil perkebunan mereka.
“Kalau akses jalannya bagus, masyarakat tentu lebih leluasa memasarkan hasil kakao dan perputaran ekonomi masyarakat juga bisa lebih lancar,” ujarnya.
Selain kakao, masyarakat Lembang Bau juga dikenal sebagai petani kopi dan penggarap sawah yang menjadi sumber penghasilan tambahan warga setempat.
Reporter: Anastasya Saidong Ridwan
Editor Video : Sanovra J. R
Narator : Rasni Gani
(TRIBUN-TIMUR.COM)
Update info terkini via http://tribun-timur.com/
Follow dan like fanpage Facebook http://bit.ly/FBTribunTimurMks
YouTube business inquiries: 081144407111
Follow akun Instagram http://bit.ly/IGTribunTimur
Follow akun Twitter http://bit.ly/twitterTribunTimur
Видео Dari Lereng Tana Toraja, Warga Desa Bau Produksi Kakao Organik Hingga 100 Ton per Tahun канала Tribun Timur
Комментарии отсутствуют
Информация о видео
14 мая 2026 г. 19:57:14
00:04:58
Другие видео канала





















